Jumat, 02 Maret 2012

"Moshing" itu bukanlah tawuran



Bagi kalian yang suka musik cadas pastinya gak asing lagi mendengar kata "moshing". bagi mereka yang ga tau apa itu moshing mungkin mengira lagi ada tawuran..hahahaha…moshing identik dengan musik-musik cadas…mereka para penikmat musik cadas atau musik-musik underground mengekfresikan musik tersebut dengan sebuah tarian reflek seperti body slamming,headbanging, dan crowdsurfing yang dilancarkan secara agresif..ya begitulah cara mereka mengekfresikan..mungkin karna musik underground memang musik yang memiliki adrenalin tinggi..masa musiknya underground malah ballet ga mungkin kan jadi ga nyambung dong…ga keliatan deh kesan sangarnya…hahahaha…

Musik memang dapat mempengaruhi perilaku dan kehidupan seseorang, baik itu positif atau pun negatif. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya mengubah pola hidup mereka menjadi sangat ekstrim dan tak terkendali. Namun justru inilah yang menjadi keunikan dari musik. Musik yang seperti ini biasanya musik yang memiliki beat-beat yang kencang, musik yang keras, dan lirik-lirik yang tajam.

Musik yang keras ini memang sering dikonotasikan negatif oleh masyarakat awam. Musik dengan genre seperti punk dan metal ialah beberapa genre musik yang sering mendapatkan cap negatif dari masyarakat. Para pencinta dari musik ini sering melampiasakan ekspresi mereka dengan sebuah tarian yang cukup rusuh dan brutal yang dikenal dengan sebutan moshing.

Moshing sendiri adalah salah satu jenis tarian pada musik punk, rock alternative dan heavy metal. Tarian ini biasanya mengandalkan nyali dan kekuatan tubuh untuk mendorong, menjatuhkan dan meniban tubuh orang lain dengan tubuh kita sendiri. Banyak juga yang beranggapan moshing adalah sebuah olah raga yang cukup membakar kalori dan dapat membentuk tubuh kita dengan sendirinya, walaupun memar dan luka-luka yang akan didapatkan. Headbanging, stage diving dan crowd surfing juga merupakan bagian dari moshing.

Moshing yang juga biasa disebut dengan slam dancing yang sempat booming pada tahun 1970-an, dimana musik punk masih memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dan tidak dapat tergeserkan oleh apa pun pada saat tersebut, selain itu hardcore punk menyebut tarian ini dengan sebutan ‘pogo’. Pada saat ini, istilah moshing juga mulai melebar lagi hingga meliputi tarian ‘skanking’ dan ‘trash’.

Selain mengenal moshing, para pencinta jenis tarian ini juga memiliki sebutan untuk tempat mereka melakukan tarian tersebut. Jika di club kita mengenal sebutan dance floor, maka pada moshing kita akan menemukan istilah mosh pit atau circle pit. Tidak ada ukuran tertentu dan tempat seperti apa yang layak untuk dijadikan mosh pit, yang jelas diamana pun ada band yang memainkan musik keras dan ada crowd, maka secara otomatis terciptalah sebuah mosh pit. Free! sempat merasakan bagaimana terjebak di mosh pit sewaktu Korn bermain di Kemayoran. Walaupun memiliki ukuran yang cukup luas namun tetap saja ketika moshing dimulai, tidak ada satu pun yang dapat keluar dari mosh pit. Bahkan untuk menghirup udara saja nampaknya susah. Dua buah water canon juga tidak cukup untuk mendinginkan crowd yang sedang melakukan tarian brutal ini.


Headbang pada musik rock BAHAYA !!!!

Gerakan mengocok kepala ke atas dan bawah pada musik Rock dan Heavy Metal yang disebut Headbanging ternyata berbahaya. Kelihatannya memang asyik dan seru untuk dipraktekkan, namun akibat yang ditimbulkan bukan main-main. Stroke dan cedera leher berat adalah beberapa dampak yang pasti dialami penggemar Headbanging.
Headbanging sendiri dibagi dalam beberapa macam gerakan. Seperti memutar searah, kiri dan kanan, setengah badan, full body dan atas bawah. Yang lebih gawatnya, yang melakukan Headbanging bukan cuma para musisi namun juga para fans juga ikut-ikutan ber Headbanging ria. Padahal, gerakan mengocok kepala itu bisa mengakibatkan luka serius pada kepala dan leher.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr Andrew McIntosh, pakar biomedical and injury di University of New South Wales, Sydney, Australia. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa rata-rata lagu headbanging mempunyai tempo 146 beats per menit (bpm). Bahkan ada yang diatas 180 bpm. Hali itu dapat menyebabkan kepala pusing, terutama dengan gerakan 75 derajat ke atas dan bawah.
Sementara itu, risiko cedera leher dimulai saat tempo 130 bpm. Sebab, beats tersebut sudah melampaui limit toleransi manusia. Pantas saja headbanging di atas tempo 130 bpm dapat menyebabkan stroke.
Melihat betapa berbahayanya gerakan kocok kepala itu, McIntosh mewanti-wanti para headbangers. Mereka mengidentifikasikan terjadinya luka traumatik pada otak yang disebabkan headbanging. Mereka bahkan mengeluarkan peringatan ke publik luas mengenai headbanging ini layaknya peringatan merokok. saking gencarnya pesan itu, sampai muncul bahan bercandaan. Kalau memang ngotot ingin headbanging, lebih  baik memakai neck braces alias penyangga leher yang bermanfaat untuk mencegah terjadinya luka.
Saran yang lebih serius, kurangi gerakan headbanging atau ganti tempo musik keras dengan yang lebih lambat. McIntosh merekomendasikan untuk mendengarkan musik-musik berirama normal.
Headbanging sudah memakan korban dan ada bukti nyata. Pada 2005 kemarin, Terry Balsamo sang gitaris Evanescence menderita stroke akibat headbanging. Selain itu banyak musisi seperti Craig Jones sampler Slipknot yang terkena salah urat leher akibat terlalu keras headbanging.
Bahkan, sudah ada korban-korban lain yang sakit kepala dan hidungnya berdarah akibat kocok kepala itu. Tampkanya insan rock di dunia perlu memikirkan cara baru untuk menikmati musik cadas.